Kesulitan Tambang Bitcoin Diprediksi Naik Desember, Hashprice Dekati Rekor Terendah
Ditulis pada 30 November 2025 oleh Alejandro
Tekanan Baru terhadap Profitabilitas Penambang Bitcoin
Tingkat kesulitan penambangan Bitcoin menjadi perhatian utama bagi pelaku industri, terutama menjelang proyeksi kenaikan pada Desember 2025. Setelah periode penurunan yang sempat memberikan ruang keuntungan, kabar pemulihan tingkat kesulitan kembali menyorot tantangan serius terhadap margin profit penambang. Dalam ekosistem yang sudah sangat kompetitif, perubahan ini dapat memengaruhi strategi para penambang skala besar dan kecil, serta potensi kelangsungan usaha penambangan Bitcoin di tengah volatilitas pasar kripto global.
Statistik Terkini: Hashprice Merosot, Harga Bitcoin Fluktuatif
Data terbaru menunjukkan hashprice—indikator utama profitabilitas penambangan—masih bertahan di dekat rekor terendah meskipun tingkat kesulitan sempat turun. Menurut laporan CoinDesk pada Juni 2024, hashprice berada di level $0,045 per TH/s per hari, mendekati titik terendah sepanjang sejarah. Harga Bitcoin sendiri berfluktuasi, tercatat di kisaran $66.000 (sumber: Investing.com). Penurunan tingkat kesulitan sebelumnya hanya memberikan dampak jangka pendek, mengingat biaya operasional tetap tinggi dan insentif blok (block reward) semakin menipis pasca-halving. Bloomberg menyoroti bahwa penambang dengan efisiensi rendah mulai tertekan dan bahkan keluar dari pasar akibat tekanan profitabilitas yang terus berlanjut.
Signifikansi Kenaikan Tingkat Kesulitan Penambangan Bitcoin
Tingkat kesulitan penambangan Bitcoin diatur algoritma untuk memastikan waktu blok rata-rata tetap stabil di sekitar 10 menit. Perubahan tingkat kesulitan mencerminkan jumlah daya komputasi yang digunakan jaringan—semakin banyak penambang, semakin tinggi kesulitannya. Kenaikan kesulitan berpotensi menurunkan profitabilitas, terutama di tengah harga Bitcoin yang belum mencerminkan biaya operasional yang meningkat. Reuters mencatat bahwa pasca-halving April 2024, banyak penambang harus beradaptasi atau meninggalkan bisnis, menyoroti pentingnya efisiensi energi dan adopsi teknologi baru. Risiko likuidasi aset penambang dapat meningkat jika harga Bitcoin tidak beranjak naik, mempertegas keseimbangan kritis dalam ekosistem mining.
Peningkatan kesulitan penambangan Desember 2025 akan menjadi titik penentu, menantang daya saing, inovasi teknologi, dan kelangsungan operasional pelaku usaha di industri pertambangan Bitcoin Indonesia dan global.










